Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NU dan Muhammadiyah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jika kita lihat sekarang ini banyak orang yang ikut organisasi A, B dan C. Anggota A merasa paling benar sehingga menganggap organisasi B dan C kurang benar dan begitu juga sebaliknya. Jadi sebenarnya dimana masalahnya? Mari kita ulas sedikit tentang dua organisasi yang Islam paling besar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah.

NU dan Muhammadiyah Omhax

Saya sering mendapat kecaman dari teman saya tentang kajian yang saya dengar dari youtube, katanya ustad ini tidak benar, ustad ini terlalu keras, ustad ini mau mendirikan kilafah dan sebagainya sebagainya. Kemudian menyuruh saya untuk mendengarkan ceramah ustad mereka.

Saya hidup di lingkungan organisasi NU, sehingga teman-teman saya juga rata-rata mengikuti organisasi tersebut. Saya juga punya teman organisasi Muhammadiyah. Bukan bermaksud tidak mau ikut organisasi NU dan Muhammadiyah, tapi saya mempunyai keyakinan bahwa Islam sama semua, semua beragama Islam, bisa berguru kepada sesama Islam, entah itu NU atau Muhammadiyah.

Pertanyaannya adalah kenapa jika sudah ikut organisasi NU menganggap organisasi Muhammadiyah salah, dan juga sebaliknya, sehingga itu menjadikan saya tidak mengikuti dua-duanya. Saya lebih yakin untuk mendengarkan ceramah ustad-ustad yang menurut hati nurani saya cocok.

Seperti Muhammadiyah, NU (Nahdatul Ulama) juga merupakan sebuah lembaga, bukan agama. Ada juga Al Irsyad, dan organisasi lainnya yang banyak di Indonesia. Jika bisa diibaratkan, ini adalah sebuah kendaraan menuju surganya الله سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Namanya kendaraan adalah untuk melewati perjalanan panjang menuju tujuan utama, bukan target. Jika mereka menganggap lembaga adalah sebuah agama maka akan ada aliran-aliran dan ini tidak benar. Tidak ada aliran dalam Islam, karena agama kita cuma 1, tuhan kita 1, nabi kita 1, kitab kita 1, kiblat kita 1, semuanya sudah jelas.

Wahyu juga jelas, hadist juga sudah jelas, ada hadist palsu juga sudah jelas dijelaskan oleh para ulama. Tidak ada sesuatu yang membingungkan sebenarnya, kalau ada yang mengatakan kajian ini mirip Muhammadiyah, dituduh mirip ini itu, maka kita punya akal, kita semua diberikan oleh الله سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akal pikiran dan hati nurani untuk bisa memilah mana yang buruk dan mana yang baik.

Kajian berfungsi untuk menambah pengetahuan, menambah iman kita bukan untuk memecah belah sesama muslim. Tidak ada hal buruk yang kita dapatkan dalam ceramah maka ikuti, dan jika ada yang kurang baik tinggalkan. Tugas kita memang untuk berpikir, menentukan keyakinan kita masing-masing.

Dengan kajian, kita pulang dengan padat ilmu, hidup kita jadi lebih baik dari hari kemarin. Beda dengan kajian ilmu yang ngomongnya ngelantur sana sini tanpa tujuan yang jelas, atau kita jadi lupa mana ilmunya mana bercandaannya, kita pulang dengan tertawa-tawa, taunya cuma dongeng-dongeng yang tidak jelas asal-usulnya. 

Apalagi dengan mengandalkan pendapat saya, maka jangan hadir. Itu bukan majelis ilmu namanya. Kalau ada orang bicara apapun maka kita sendiri yang menentukan, bukan terpengaruh kata-kata mereka. Jika baik ikuti, jelek tinggalkan.

Setan menggoda kita dari berbagai penjuru, ada celah disalah satu penjuru saja, maka setan akan fokus disitu sampai benar-benar bisa meyakinkan godaannya. Jika kita sudah mulai hijrah dari keburukan menuju kebaikan, maka setan akan dengan sekuat tenaga menggoda lebih kuat lagi.

Jika kita sudah kuat di ibadah Sholat, setan akan menggoda di fitnah, ghibah, riba dan sebagainya segingga tau bahwa kita lenah di salah satu sisi itu. Tidak terkecuali mereka yang menggelar kajian juga bisa terpengaruh setan. Mungkin tidak sengaja mengolok lembaga lainnya. Atau tidak sengaja riya dengan ilmunya.

Apalagi di dunia serba online seperti ini, belum pernah bertemu, hanya lewat youtube saling fitnah sana - sini. Ini bisa jadi celah dimana setan akan goda melalui celah itu. Ada orang yang rajin Sholat maka setan tidak bisa ganggu disitu, maka setan mencari jalan lain. Mungkin dia lemah di lawan jenis, maka dibuatlah pacaran, berbuat zina, melihat yang bukan haknya. 

Maka sebagai muslim kita harus jeli, tidak boleh ada yang lubang sedikit pun, tetap istighfar agar jika ada setan yang ingin menggoda atau ada kesalahan yang kita lakukan dengan salah memilih kajian maka الله سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memaafkan dan menuntun kita ke jalan yang benar.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengobat keresahaan yang terjadi. Semoga الله سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى selalu menjadikan kita insan yang berpikir dan berada di atas jalan yang benar. 

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Post a Comment for "NU dan Muhammadiyah"